Hahahaha, gue baru inget ini malem taun baru. Iya, 2 jam lagi kita bakal nyambut 2012. Sekarang gue tau perbedaannya. Sekarang nggak ada lo! Lo Embry!
Dan gue parahnya baru inget, tahun lalu juga nggak ada lo Em. Cuma taun baruan sama temen-temen gue doang. Dan buat Embry, lo tau maksud gue apa? Yak! 2 tahun lo pergi, 2 tahun lo hilang, 2 tahun lo nggak peduli lagi sama gue, dan 2 tahun pula gue BELUM BISA MOVE ON!
Lo ketawa? Hey, Embry Call! Asal lo tau, sebenernya gue capek kayak gini terus-terusan. Kenapa semua berhubungan sama lo, tentang lo? Ah bodo! Embry, gue butuh elo. Di malem taun baru ini, tapi sayangnya Tuhan nggak ngabulin wishes gue. Ok, thats enough.
Sepi~
Sama kayak taun lalu
Sama-sama nggak ada lo
Embry Call.
A Cup of memories and tears. My first broken-hearted love, Embry Call. He is my only hope.
Sabtu, 31 Desember 2011
New Year Eve
Jumat, 30 Desember 2011
Embry Call. Gone. Again. Kraaaaaak!
Thanks yang udah support gue sama Embry padahal nggak berarti apa-apa
Thanks buat sahabat-sahabat gue, terutama power eek yang selalu jadi temen curhat
Thanks buat Embry. Gue nggak tau lo kemana, pergi kali ya?
Lo udah denger suara 'Kraaaaaak!' tadi kan Embry? Iya, itu suara hati gue
Lo hilang udah yang keberapa kali gue gapeduli. Gue masih pengen elo disini
Sekalipun lo bukan siapa-siapa gue. Pleaseeeee
Buat Embry Call: You light up my world like nobody else. Just want you to know, cuma elo yang bisa buat semua mimpi gue jadi nyata. A part of me, will always be with you.
ps: Embry Call itu cuma nama samaran -_-
Thanks buat sahabat-sahabat gue, terutama power eek yang selalu jadi temen curhat
Thanks buat Embry. Gue nggak tau lo kemana, pergi kali ya?
Lo udah denger suara 'Kraaaaaak!' tadi kan Embry? Iya, itu suara hati gue
Lo hilang udah yang keberapa kali gue gapeduli. Gue masih pengen elo disini
Sekalipun lo bukan siapa-siapa gue. Pleaseeeee
Buat Embry Call: You light up my world like nobody else. Just want you to know, cuma elo yang bisa buat semua mimpi gue jadi nyata. A part of me, will always be with you.
ps: Embry Call itu cuma nama samaran -_-
Jumat, 23 Desember 2011
Kamis, 17 November 2011
Renata 10 (This is the final..!!)
Suara gue menggantung di ujung telepon, menggigit bibir bawah. Entah kenapa, kali ini gue sangat gelisah.
"Ini tentang pacarku" lanjut suara bernama Kak Dino tadi.
"Oke, boleh dilanjutkan" kataku mengambang.
Diseberang sana, terdengar jelas helaan nafas panjang. "Dulu, aku sama pacarku baik-baik saja. Pergi berdua. Aku polos dia lucu. Dia adalah seorang penyiar radio. Ya! aku sangat mendukungnya. Ah, aku kadang meningat dia sebagai memori yang indah. Dia sebenernya lebih suka ngomong pake gue-lo. Tapi aku suruh dia pake kata aku-kamu, dan dia nurut gitu aja" Jeda cowok itu sambil tertawa kecil. Gue mulai ngerasa ada yang salah.
Ini ada apa?
Penyiar radio?
Siapa?
Kak Dino itu siapa?
"Dan sampai suatu saat, ada hal yang mengharuskan dia bertemu dengan cowok lain.." Kak Dino menggantung kata-katanya. Ini.. seperti.. ah! Gue panik otomatis.
"Aku menganggapnya biasa saja, hanya partner kerjanya. Tapi, kadang aku merasa ada yang janggal dari dirinya.. Sikapnya berbeda sejak ia bertemu dengan cowok itu. Aku akui, cowok itu memang tak selugu aku, Malam itu hujan deras.." Lagi-lagi dia memutus kata-katanya! Gue udah kelimpungan, hawa disini panas sekali, mencekik, aku menahan napas.
"Aku mengunjungi rumahnya dan bertemu mamanya. Mamanya bilang, dia sedang tak ada dirumah. Dan aku memutuskan untuk tetap menunggu. 2 Jam berlalu, aku menunggunya sampai jam 10 malam dirumahnya, sampai deru mobil diluar mengagetkanku, hujan masih dengan kejamnya mengguyur kota bandung. Aku keluar dari rumah. Mobil yang tak kukenal berhenti didepan rumahnya. Aku memutuskan untuk pulang.."
Kak Dino itu siapa?
Cerita itu.. cerita itu..
Gue..
Gue akhirnya menangis tanpa suara.
Mungkin dia..
"Aku berada tepat dibelakang mobil itu. Aku penasaran milik siapa mobil itu, nggak aku sangka. Di dalam mobil itu ada dia dan partner kerjanya itu.. Iya, dia pacarku. Dia.. sedang.. berciuman.. dengan.. partner kerjanya itu....... Aku hanya bisa membisu, tak melawan, aku masih mencintainya, aku masih menyayanginya. Mungkin, jika sekarang dia sedang mendengar ceritaku, aku bilang tak usah mencariku, memang aku menyayangimu, aku tau kamu lebih bahagia sama dia, Tak usah buang tenaga mencariku. Aku sudah pergi. Selamat tinggal." Putusnya, kemudian ada suara telpon ditutup. Aku menangis sejadi-jadinya.
Gue tau..
Yang dimaksud dia adalah gue..
D-I-N-O adalah D-I-O-N
Pacar gue yang lugu itu. Gue nggak bisa gini. Gue harus mencari Dion apapun alesannya. Diluar hujan, dan gue harus tetep ke kos an Dion. Gue pun lari keluar studio, nggak mikir apa-apa lagi selain DION! Ya! DION!
Gue berlari menembus hujan, sambil nangis, berantakan, kacau. Ah! persetan dengan itu! Aku memang salah, Gue masih mencintai Dion. Gue harus minta maaf sama dia. HARUS!
"Ini tentang pacarku" lanjut suara bernama Kak Dino tadi.
"Oke, boleh dilanjutkan" kataku mengambang.
Diseberang sana, terdengar jelas helaan nafas panjang. "Dulu, aku sama pacarku baik-baik saja. Pergi berdua. Aku polos dia lucu. Dia adalah seorang penyiar radio. Ya! aku sangat mendukungnya. Ah, aku kadang meningat dia sebagai memori yang indah. Dia sebenernya lebih suka ngomong pake gue-lo. Tapi aku suruh dia pake kata aku-kamu, dan dia nurut gitu aja" Jeda cowok itu sambil tertawa kecil. Gue mulai ngerasa ada yang salah.
Ini ada apa?
Penyiar radio?
Siapa?
Kak Dino itu siapa?
"Dan sampai suatu saat, ada hal yang mengharuskan dia bertemu dengan cowok lain.." Kak Dino menggantung kata-katanya. Ini.. seperti.. ah! Gue panik otomatis.
"Aku menganggapnya biasa saja, hanya partner kerjanya. Tapi, kadang aku merasa ada yang janggal dari dirinya.. Sikapnya berbeda sejak ia bertemu dengan cowok itu. Aku akui, cowok itu memang tak selugu aku, Malam itu hujan deras.." Lagi-lagi dia memutus kata-katanya! Gue udah kelimpungan, hawa disini panas sekali, mencekik, aku menahan napas.
"Aku mengunjungi rumahnya dan bertemu mamanya. Mamanya bilang, dia sedang tak ada dirumah. Dan aku memutuskan untuk tetap menunggu. 2 Jam berlalu, aku menunggunya sampai jam 10 malam dirumahnya, sampai deru mobil diluar mengagetkanku, hujan masih dengan kejamnya mengguyur kota bandung. Aku keluar dari rumah. Mobil yang tak kukenal berhenti didepan rumahnya. Aku memutuskan untuk pulang.."
Kak Dino itu siapa?
Cerita itu.. cerita itu..
Gue..
Gue akhirnya menangis tanpa suara.
Mungkin dia..
"Aku berada tepat dibelakang mobil itu. Aku penasaran milik siapa mobil itu, nggak aku sangka. Di dalam mobil itu ada dia dan partner kerjanya itu.. Iya, dia pacarku. Dia.. sedang.. berciuman.. dengan.. partner kerjanya itu....... Aku hanya bisa membisu, tak melawan, aku masih mencintainya, aku masih menyayanginya. Mungkin, jika sekarang dia sedang mendengar ceritaku, aku bilang tak usah mencariku, memang aku menyayangimu, aku tau kamu lebih bahagia sama dia, Tak usah buang tenaga mencariku. Aku sudah pergi. Selamat tinggal." Putusnya, kemudian ada suara telpon ditutup. Aku menangis sejadi-jadinya.
Gue tau..
Yang dimaksud dia adalah gue..
D-I-N-O adalah D-I-O-N
Pacar gue yang lugu itu. Gue nggak bisa gini. Gue harus mencari Dion apapun alesannya. Diluar hujan, dan gue harus tetep ke kos an Dion. Gue pun lari keluar studio, nggak mikir apa-apa lagi selain DION! Ya! DION!
Gue berlari menembus hujan, sambil nangis, berantakan, kacau. Ah! persetan dengan itu! Aku memang salah, Gue masih mencintai Dion. Gue harus minta maaf sama dia. HARUS!
***
Di kos an Dion, gue ketuk pintu kamarnya berulang-ulang, masih nggak ada jawaban. Oh God, tolonglah aku, jangan ambil Dion.
"Renata?" Sebuah suara cowok mengagetkan gue. Oh bukan Dion :(
"Eh, Reza" Jawabku lemah
"Lo nyari siapa?" Tanya cowok bernama Reza itu
"Dion mana Za?"
"Dion.. udah.. pergi dari tadi" katanya menghela napas. Tubuh gue lemes seketika. Lutut gue juga langsung lemes. Gue memutuskan untuk duduk dibawah bersandar di pintu kamar Dion dan menangis sejadi-jadinya. Gue telat.. Dion udah pergi..
"Oh iya, Dion nitip ini ke gue" Reza mengeluarkan sepotong kertas yang dilipat dari kantongnya
Gue mengambilnya "Gue pergi dulu ya" ujar Reza.
Gue membuka lipatan kertas itu. Membaca nya sambil menangis.
Renata sayang,
Aku nggak marah kok sama kamu, dan aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu. Nggak perlu minta maaf, aku udah maafin kamu. Renata, mungkin saat kamu baca ini, aku udah pergi jauh. Tapi tenang aja ya Re, aku masih disini. Apa kita ini masih bisa disebut pacaran? Ah entahlah, yang jelas aku sangat mencintaimu.
Rere, maaf aku nggak bilang apa-apa soal malam itu. Maaf aku akhir-akhir ini mulai menjauh darimu. Ini yang terbaik. Mungkin kamu lebih bahagia kalo sama Rico ya. Maaf, aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Nggak bisa jadi apa yang kamu mau. Aku bukan Rico Re..
Oh ya Re, aku sama kamu jauh. Tapi kita masih bisa liat bulan yang sama kan? Pas aku pergi, kamu nggak boleh nangisin aku ya :) Aku sedih kalo kamu nangis, soalnya aku sayang sama kamu.
Hmm, Renata.. Jangan lupa yaa, salam buat mama kamu. Aku bakal kangen Muffin Cokelat buatan mamamu dan bakal kangen sama Pisang Cokelat Keju yang kamu buat khusus buat aku dulu..
Di kos an Dion, gue ketuk pintu kamarnya berulang-ulang, masih nggak ada jawaban. Oh God, tolonglah aku, jangan ambil Dion.
"Renata?" Sebuah suara cowok mengagetkan gue. Oh bukan Dion :(
"Eh, Reza" Jawabku lemah
"Lo nyari siapa?" Tanya cowok bernama Reza itu
"Dion mana Za?"
"Dion.. udah.. pergi dari tadi" katanya menghela napas. Tubuh gue lemes seketika. Lutut gue juga langsung lemes. Gue memutuskan untuk duduk dibawah bersandar di pintu kamar Dion dan menangis sejadi-jadinya. Gue telat.. Dion udah pergi..
"Oh iya, Dion nitip ini ke gue" Reza mengeluarkan sepotong kertas yang dilipat dari kantongnya
Gue mengambilnya "Gue pergi dulu ya" ujar Reza.
Gue membuka lipatan kertas itu. Membaca nya sambil menangis.
Renata sayang,
Aku nggak marah kok sama kamu, dan aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu. Nggak perlu minta maaf, aku udah maafin kamu. Renata, mungkin saat kamu baca ini, aku udah pergi jauh. Tapi tenang aja ya Re, aku masih disini. Apa kita ini masih bisa disebut pacaran? Ah entahlah, yang jelas aku sangat mencintaimu.
Rere, maaf aku nggak bilang apa-apa soal malam itu. Maaf aku akhir-akhir ini mulai menjauh darimu. Ini yang terbaik. Mungkin kamu lebih bahagia kalo sama Rico ya. Maaf, aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Nggak bisa jadi apa yang kamu mau. Aku bukan Rico Re..
Oh ya Re, aku sama kamu jauh. Tapi kita masih bisa liat bulan yang sama kan? Pas aku pergi, kamu nggak boleh nangisin aku ya :) Aku sedih kalo kamu nangis, soalnya aku sayang sama kamu.
Hmm, Renata.. Jangan lupa yaa, salam buat mama kamu. Aku bakal kangen Muffin Cokelat buatan mamamu dan bakal kangen sama Pisang Cokelat Keju yang kamu buat khusus buat aku dulu..
Makasih yaa Renata :)
Dion :)
Gue langsung keluar, menatap bulan yang sama. Gue disini, Dion disana entah dimana
"DIIIOOOOONNNN!!!!!!!!!!!" Teriak gue, melepas semua beban. Menangisi dan menyesali apa yang udah gue lakuin dulu. Gue udah nyianyiain Dion.
Gue kangen elo Dion..
Sangat kangen..
PS: THE END!! Nggantung yah ceritanya? hehe, emang sengaja sih :p biar seru gitu. Thanks yak yang udah baca dari part 1 sampe part 10 yang terakhir ini. Love you guys <3 You rock /m/
Dion :)
Gue langsung keluar, menatap bulan yang sama. Gue disini, Dion disana entah dimana
"DIIIOOOOONNNN!!!!!!!!!!!" Teriak gue, melepas semua beban. Menangisi dan menyesali apa yang udah gue lakuin dulu. Gue udah nyianyiain Dion.
Gue kangen elo Dion..
Sangat kangen..
PS: THE END!! Nggantung yah ceritanya? hehe, emang sengaja sih :p biar seru gitu. Thanks yak yang udah baca dari part 1 sampe part 10 yang terakhir ini. Love you guys <3 You rock /m/
Sabtu, 08 Oktober 2011
Renata 9
Gue menatap lilin angka 22 ku. Api itu akan terus melelehkan lilin yang tak berdosa itu. Gue menatap sekeliling. Mamaku, Ayahku, Mia, dan teman-temanku yang lain. Dion? Dion tak datang. Alasannya ia pergi keluar kota. Surabaya tepatnya. Ah! sudahlah..
"Make a wish dulu dong honey" Ujar mama mengagetkan lamunanku. Gue pun memejamkan mataku. Ku harap, aku dapat bersama dion seperti dulu. Hanya aku dan dion. Gue membuka mata, semua harap-harap cemas. Gue pun meniup lilin berbentuk 22 itu. Api padam. Mungkin cinta Dion juga sudah 'padam' sama gue.
Gue gelisah. Gue memutuskan untuk ke arah kolam renang. Mencelupkan ujung-ujung kaki ke dalam air yang dingin. Dion nggak peduli lagi sama gue. Ya, Tuhan.. Kenapa harus Dion?
Tangan lembut menyentuh bahu gue "Rere.."
"Eh, Mia" gue tersenyum simpul
Mia pun ikut duduk disamping gue "Dion lagi?" gue hanya mengangguk
"Lo masih sama dia kan?" tanya Mia hati-hati. Gue pun hanya mengangguk lagi. Kemudian hening
"Mi, lo tau nggak kenapa dion akhir-akhir ini ngejauh dari gue?" tanyaku memecah keheningan
"Maaf Re, gue nggak tau. Kalo gue sih, mungkin lo pernah buat salah sama dion" jawabnya. Gue nggak bisa menahan airmata gue lagi. Akhirnya buliran lembut menetes di pipi gue.
Mia melihatku perihatin "Apa gue perlu telepon dion?"
"Gak perlu Mi, dengan gini.. Gue bisa tau kalo dion.. kalo dion.." gue sesengukan
"Gue masuk dulu ya Re"
"Hmmm.."
*Keesokan harinya di Stasiun Radio Bandung*
"Renata?"
Gue mengenal suara lembut itu. Gue mengangkat kepala. "Dion?" Ia tersenyum. Tapi senyumnya berbeda dari biasanya. Gue beranjak dari kursi gue. Memeluk dion sangat erat. gue kangen sama dia.
"Rere?"
"Aku kangen sama kamu Dion" ujarku tak menghiraunya.
"...."
"Kamu nggak papa kan Dion?" gue melepas pelukan gue dari dion. Menatap matanya.
"Hm.. aku, nggak papa. Aku baik-baik saja" jawabnya datar.
"Dion, maafin aku"
"Untuk?"
Gue menghela nafas panjang "Untuk semua kesalahan yang nggak aku sadari buat kamu sakit"
Dion hanya memandang gue, wajahnya sayu. Dia hanya tersenyum simpul.
"Dion, aku harus siaran dulu" lanjutku kemudian.
"Yaudah, sana siaran dulu" aku pun beranjak pergi. Kemudian tangan lembut menarik tangan gue. Gue pun berbalik. "Dion?" Tak ada jawaban. Dia hanya meluk gue, cukup lama.
"Maafin aku Re"
"Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Aku sayang kamu" lanjutnya nggak menghiraukan gue.
"Aku juga sayang kamu" "Aku harus siaran dulu" Ujarku
Dion pun mengecup kening gue perlahan. Kayaknya ada yang salah dari Dion. Tapi gue ngga berani nanya apa-apa.
Aku menatapnya heran "Dion?" panggilku.
"Habis siaran, kamu nggak boleh nangis yaa sayang" ia nggak menghiraukan gue lagi.
"Kenapa?" tanyaku hati-hati.
"Udah gih, sana siaran dulu" jawabnya. Gue pun beranjak pergi, gue membalikkan badan ke arah Dion lagi. Ia hanya tersenyum tulus. Gue pun membalas senyumnya. Ia pun berlalu pergi menghilang dibalik keheranan gue.
*In the studio*
Gue memakai headphone berwarna silver itu. Kemudian menghela nafas panjang sambil tersenyum malas. Gue pun menekan tombol merah bertuliskan 'On Air'
"Haloo, selamat malam para pendengar setia Bandung Pass Radio. Kembali lagi dengan gue Renata, akan menemani malam kalian. Kali ini kita buka sesi untuk para penelpon yang pingin curhat. Tapi, setelah lagu berikut yang akan diputar. This is it..."
Gue melepas headphone gue. Kemudian melirik partner disebelah gue. "Shel.."
"hmm?"
"Ntar lo mau kan nggantiin gue siaran kalo gue ada apa-apa?" tanyaku.
"Maksud lo?" Shella tanya balik ke gue.
"Gue ngerasa, ada yang nggak enak aja ntar. Semacam bad feeling gitu"
"Oh yaudah gak papa sih" putusnya.
"Sip! Maacih Shella ku sayang!" kemudian gue memasang headphone kembali.
"Hai hai! Kembali lagi sama gue. Haha, gimana? bagus ya lagunya tadi? Oke, tanpa basa-basi lagi. Yuk kita langsung buka sesi untuk para penelpon. Ayo silahkan siapa penelpon pertama kita??" Tuuuut.. tuuut.. tuuut... "Nah, penelpon pertama kita. Halo dengan siapa dimana?"
"Dari Dino di Cihampelas" terdengar suara berat dari ujung telepon.
"Yak, oke Kak Dino silahkan mau curhat tentang apa?"
"Make a wish dulu dong honey" Ujar mama mengagetkan lamunanku. Gue pun memejamkan mataku. Ku harap, aku dapat bersama dion seperti dulu. Hanya aku dan dion. Gue membuka mata, semua harap-harap cemas. Gue pun meniup lilin berbentuk 22 itu. Api padam. Mungkin cinta Dion juga sudah 'padam' sama gue.
Gue gelisah. Gue memutuskan untuk ke arah kolam renang. Mencelupkan ujung-ujung kaki ke dalam air yang dingin. Dion nggak peduli lagi sama gue. Ya, Tuhan.. Kenapa harus Dion?
Tangan lembut menyentuh bahu gue "Rere.."
"Eh, Mia" gue tersenyum simpul
Mia pun ikut duduk disamping gue "Dion lagi?" gue hanya mengangguk
"Lo masih sama dia kan?" tanya Mia hati-hati. Gue pun hanya mengangguk lagi. Kemudian hening
"Mi, lo tau nggak kenapa dion akhir-akhir ini ngejauh dari gue?" tanyaku memecah keheningan
"Maaf Re, gue nggak tau. Kalo gue sih, mungkin lo pernah buat salah sama dion" jawabnya. Gue nggak bisa menahan airmata gue lagi. Akhirnya buliran lembut menetes di pipi gue.
Mia melihatku perihatin "Apa gue perlu telepon dion?"
"Gak perlu Mi, dengan gini.. Gue bisa tau kalo dion.. kalo dion.." gue sesengukan
"Gue masuk dulu ya Re"
"Hmmm.."
*Keesokan harinya di Stasiun Radio Bandung*
"Renata?"
Gue mengenal suara lembut itu. Gue mengangkat kepala. "Dion?" Ia tersenyum. Tapi senyumnya berbeda dari biasanya. Gue beranjak dari kursi gue. Memeluk dion sangat erat. gue kangen sama dia.
"Rere?"
"Aku kangen sama kamu Dion" ujarku tak menghiraunya.
"...."
"Kamu nggak papa kan Dion?" gue melepas pelukan gue dari dion. Menatap matanya.
"Hm.. aku, nggak papa. Aku baik-baik saja" jawabnya datar.
"Dion, maafin aku"
"Untuk?"
Gue menghela nafas panjang "Untuk semua kesalahan yang nggak aku sadari buat kamu sakit"
Dion hanya memandang gue, wajahnya sayu. Dia hanya tersenyum simpul.
"Dion, aku harus siaran dulu" lanjutku kemudian.
"Yaudah, sana siaran dulu" aku pun beranjak pergi. Kemudian tangan lembut menarik tangan gue. Gue pun berbalik. "Dion?" Tak ada jawaban. Dia hanya meluk gue, cukup lama.
"Maafin aku Re"
"Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Aku sayang kamu" lanjutnya nggak menghiraukan gue.
"Aku juga sayang kamu" "Aku harus siaran dulu" Ujarku
Dion pun mengecup kening gue perlahan. Kayaknya ada yang salah dari Dion. Tapi gue ngga berani nanya apa-apa.
Aku menatapnya heran "Dion?" panggilku.
"Habis siaran, kamu nggak boleh nangis yaa sayang" ia nggak menghiraukan gue lagi.
"Kenapa?" tanyaku hati-hati.
"Udah gih, sana siaran dulu" jawabnya. Gue pun beranjak pergi, gue membalikkan badan ke arah Dion lagi. Ia hanya tersenyum tulus. Gue pun membalas senyumnya. Ia pun berlalu pergi menghilang dibalik keheranan gue.
*In the studio*
Gue memakai headphone berwarna silver itu. Kemudian menghela nafas panjang sambil tersenyum malas. Gue pun menekan tombol merah bertuliskan 'On Air'
"Haloo, selamat malam para pendengar setia Bandung Pass Radio. Kembali lagi dengan gue Renata, akan menemani malam kalian. Kali ini kita buka sesi untuk para penelpon yang pingin curhat. Tapi, setelah lagu berikut yang akan diputar. This is it..."
Gue melepas headphone gue. Kemudian melirik partner disebelah gue. "Shel.."
"hmm?"
"Ntar lo mau kan nggantiin gue siaran kalo gue ada apa-apa?" tanyaku.
"Maksud lo?" Shella tanya balik ke gue.
"Gue ngerasa, ada yang nggak enak aja ntar. Semacam bad feeling gitu"
"Oh yaudah gak papa sih" putusnya.
"Sip! Maacih Shella ku sayang!" kemudian gue memasang headphone kembali.
"Hai hai! Kembali lagi sama gue. Haha, gimana? bagus ya lagunya tadi? Oke, tanpa basa-basi lagi. Yuk kita langsung buka sesi untuk para penelpon. Ayo silahkan siapa penelpon pertama kita??" Tuuuut.. tuuut.. tuuut... "Nah, penelpon pertama kita. Halo dengan siapa dimana?"
"Dari Dino di Cihampelas" terdengar suara berat dari ujung telepon.
"Yak, oke Kak Dino silahkan mau curhat tentang apa?"
Langganan:
Komentar (Atom)
Sabtu, 31 Desember 2011
New Year Eve
Hahahaha, gue baru inget ini malem taun baru. Iya, 2 jam lagi kita bakal nyambut 2012. Sekarang gue tau perbedaannya. Sekarang nggak ada lo! Lo Embry!
Dan gue parahnya baru inget, tahun lalu juga nggak ada lo Em. Cuma taun baruan sama temen-temen gue doang. Dan buat Embry, lo tau maksud gue apa? Yak! 2 tahun lo pergi, 2 tahun lo hilang, 2 tahun lo nggak peduli lagi sama gue, dan 2 tahun pula gue BELUM BISA MOVE ON!
Lo ketawa? Hey, Embry Call! Asal lo tau, sebenernya gue capek kayak gini terus-terusan. Kenapa semua berhubungan sama lo, tentang lo? Ah bodo! Embry, gue butuh elo. Di malem taun baru ini, tapi sayangnya Tuhan nggak ngabulin wishes gue. Ok, thats enough.
Sepi~
Sama kayak taun lalu
Sama-sama nggak ada lo
Embry Call.
Dan gue parahnya baru inget, tahun lalu juga nggak ada lo Em. Cuma taun baruan sama temen-temen gue doang. Dan buat Embry, lo tau maksud gue apa? Yak! 2 tahun lo pergi, 2 tahun lo hilang, 2 tahun lo nggak peduli lagi sama gue, dan 2 tahun pula gue BELUM BISA MOVE ON!
Lo ketawa? Hey, Embry Call! Asal lo tau, sebenernya gue capek kayak gini terus-terusan. Kenapa semua berhubungan sama lo, tentang lo? Ah bodo! Embry, gue butuh elo. Di malem taun baru ini, tapi sayangnya Tuhan nggak ngabulin wishes gue. Ok, thats enough.
Sepi~
Sama kayak taun lalu
Sama-sama nggak ada lo
Embry Call.
Jumat, 30 Desember 2011
Embry Call. Gone. Again. Kraaaaaak!
Thanks yang udah support gue sama Embry padahal nggak berarti apa-apa
Thanks buat sahabat-sahabat gue, terutama power eek yang selalu jadi temen curhat
Thanks buat Embry. Gue nggak tau lo kemana, pergi kali ya?
Lo udah denger suara 'Kraaaaaak!' tadi kan Embry? Iya, itu suara hati gue
Lo hilang udah yang keberapa kali gue gapeduli. Gue masih pengen elo disini
Sekalipun lo bukan siapa-siapa gue. Pleaseeeee
Buat Embry Call: You light up my world like nobody else. Just want you to know, cuma elo yang bisa buat semua mimpi gue jadi nyata. A part of me, will always be with you.
ps: Embry Call itu cuma nama samaran -_-
Thanks buat sahabat-sahabat gue, terutama power eek yang selalu jadi temen curhat
Thanks buat Embry. Gue nggak tau lo kemana, pergi kali ya?
Lo udah denger suara 'Kraaaaaak!' tadi kan Embry? Iya, itu suara hati gue
Lo hilang udah yang keberapa kali gue gapeduli. Gue masih pengen elo disini
Sekalipun lo bukan siapa-siapa gue. Pleaseeeee
Buat Embry Call: You light up my world like nobody else. Just want you to know, cuma elo yang bisa buat semua mimpi gue jadi nyata. A part of me, will always be with you.
ps: Embry Call itu cuma nama samaran -_-
Jumat, 23 Desember 2011
Kamis, 17 November 2011
Renata 10 (This is the final..!!)
Suara gue menggantung di ujung telepon, menggigit bibir bawah. Entah kenapa, kali ini gue sangat gelisah.
"Ini tentang pacarku" lanjut suara bernama Kak Dino tadi.
"Oke, boleh dilanjutkan" kataku mengambang.
Diseberang sana, terdengar jelas helaan nafas panjang. "Dulu, aku sama pacarku baik-baik saja. Pergi berdua. Aku polos dia lucu. Dia adalah seorang penyiar radio. Ya! aku sangat mendukungnya. Ah, aku kadang meningat dia sebagai memori yang indah. Dia sebenernya lebih suka ngomong pake gue-lo. Tapi aku suruh dia pake kata aku-kamu, dan dia nurut gitu aja" Jeda cowok itu sambil tertawa kecil. Gue mulai ngerasa ada yang salah.
Ini ada apa?
Penyiar radio?
Siapa?
Kak Dino itu siapa?
"Dan sampai suatu saat, ada hal yang mengharuskan dia bertemu dengan cowok lain.." Kak Dino menggantung kata-katanya. Ini.. seperti.. ah! Gue panik otomatis.
"Aku menganggapnya biasa saja, hanya partner kerjanya. Tapi, kadang aku merasa ada yang janggal dari dirinya.. Sikapnya berbeda sejak ia bertemu dengan cowok itu. Aku akui, cowok itu memang tak selugu aku, Malam itu hujan deras.." Lagi-lagi dia memutus kata-katanya! Gue udah kelimpungan, hawa disini panas sekali, mencekik, aku menahan napas.
"Aku mengunjungi rumahnya dan bertemu mamanya. Mamanya bilang, dia sedang tak ada dirumah. Dan aku memutuskan untuk tetap menunggu. 2 Jam berlalu, aku menunggunya sampai jam 10 malam dirumahnya, sampai deru mobil diluar mengagetkanku, hujan masih dengan kejamnya mengguyur kota bandung. Aku keluar dari rumah. Mobil yang tak kukenal berhenti didepan rumahnya. Aku memutuskan untuk pulang.."
Kak Dino itu siapa?
Cerita itu.. cerita itu..
Gue..
Gue akhirnya menangis tanpa suara.
Mungkin dia..
"Aku berada tepat dibelakang mobil itu. Aku penasaran milik siapa mobil itu, nggak aku sangka. Di dalam mobil itu ada dia dan partner kerjanya itu.. Iya, dia pacarku. Dia.. sedang.. berciuman.. dengan.. partner kerjanya itu....... Aku hanya bisa membisu, tak melawan, aku masih mencintainya, aku masih menyayanginya. Mungkin, jika sekarang dia sedang mendengar ceritaku, aku bilang tak usah mencariku, memang aku menyayangimu, aku tau kamu lebih bahagia sama dia, Tak usah buang tenaga mencariku. Aku sudah pergi. Selamat tinggal." Putusnya, kemudian ada suara telpon ditutup. Aku menangis sejadi-jadinya.
Gue tau..
Yang dimaksud dia adalah gue..
D-I-N-O adalah D-I-O-N
Pacar gue yang lugu itu. Gue nggak bisa gini. Gue harus mencari Dion apapun alesannya. Diluar hujan, dan gue harus tetep ke kos an Dion. Gue pun lari keluar studio, nggak mikir apa-apa lagi selain DION! Ya! DION!
Gue berlari menembus hujan, sambil nangis, berantakan, kacau. Ah! persetan dengan itu! Aku memang salah, Gue masih mencintai Dion. Gue harus minta maaf sama dia. HARUS!
"Ini tentang pacarku" lanjut suara bernama Kak Dino tadi.
"Oke, boleh dilanjutkan" kataku mengambang.
Diseberang sana, terdengar jelas helaan nafas panjang. "Dulu, aku sama pacarku baik-baik saja. Pergi berdua. Aku polos dia lucu. Dia adalah seorang penyiar radio. Ya! aku sangat mendukungnya. Ah, aku kadang meningat dia sebagai memori yang indah. Dia sebenernya lebih suka ngomong pake gue-lo. Tapi aku suruh dia pake kata aku-kamu, dan dia nurut gitu aja" Jeda cowok itu sambil tertawa kecil. Gue mulai ngerasa ada yang salah.
Ini ada apa?
Penyiar radio?
Siapa?
Kak Dino itu siapa?
"Dan sampai suatu saat, ada hal yang mengharuskan dia bertemu dengan cowok lain.." Kak Dino menggantung kata-katanya. Ini.. seperti.. ah! Gue panik otomatis.
"Aku menganggapnya biasa saja, hanya partner kerjanya. Tapi, kadang aku merasa ada yang janggal dari dirinya.. Sikapnya berbeda sejak ia bertemu dengan cowok itu. Aku akui, cowok itu memang tak selugu aku, Malam itu hujan deras.." Lagi-lagi dia memutus kata-katanya! Gue udah kelimpungan, hawa disini panas sekali, mencekik, aku menahan napas.
"Aku mengunjungi rumahnya dan bertemu mamanya. Mamanya bilang, dia sedang tak ada dirumah. Dan aku memutuskan untuk tetap menunggu. 2 Jam berlalu, aku menunggunya sampai jam 10 malam dirumahnya, sampai deru mobil diluar mengagetkanku, hujan masih dengan kejamnya mengguyur kota bandung. Aku keluar dari rumah. Mobil yang tak kukenal berhenti didepan rumahnya. Aku memutuskan untuk pulang.."
Kak Dino itu siapa?
Cerita itu.. cerita itu..
Gue..
Gue akhirnya menangis tanpa suara.
Mungkin dia..
"Aku berada tepat dibelakang mobil itu. Aku penasaran milik siapa mobil itu, nggak aku sangka. Di dalam mobil itu ada dia dan partner kerjanya itu.. Iya, dia pacarku. Dia.. sedang.. berciuman.. dengan.. partner kerjanya itu....... Aku hanya bisa membisu, tak melawan, aku masih mencintainya, aku masih menyayanginya. Mungkin, jika sekarang dia sedang mendengar ceritaku, aku bilang tak usah mencariku, memang aku menyayangimu, aku tau kamu lebih bahagia sama dia, Tak usah buang tenaga mencariku. Aku sudah pergi. Selamat tinggal." Putusnya, kemudian ada suara telpon ditutup. Aku menangis sejadi-jadinya.
Gue tau..
Yang dimaksud dia adalah gue..
D-I-N-O adalah D-I-O-N
Pacar gue yang lugu itu. Gue nggak bisa gini. Gue harus mencari Dion apapun alesannya. Diluar hujan, dan gue harus tetep ke kos an Dion. Gue pun lari keluar studio, nggak mikir apa-apa lagi selain DION! Ya! DION!
Gue berlari menembus hujan, sambil nangis, berantakan, kacau. Ah! persetan dengan itu! Aku memang salah, Gue masih mencintai Dion. Gue harus minta maaf sama dia. HARUS!
***
Di kos an Dion, gue ketuk pintu kamarnya berulang-ulang, masih nggak ada jawaban. Oh God, tolonglah aku, jangan ambil Dion.
"Renata?" Sebuah suara cowok mengagetkan gue. Oh bukan Dion :(
"Eh, Reza" Jawabku lemah
"Lo nyari siapa?" Tanya cowok bernama Reza itu
"Dion mana Za?"
"Dion.. udah.. pergi dari tadi" katanya menghela napas. Tubuh gue lemes seketika. Lutut gue juga langsung lemes. Gue memutuskan untuk duduk dibawah bersandar di pintu kamar Dion dan menangis sejadi-jadinya. Gue telat.. Dion udah pergi..
"Oh iya, Dion nitip ini ke gue" Reza mengeluarkan sepotong kertas yang dilipat dari kantongnya
Gue mengambilnya "Gue pergi dulu ya" ujar Reza.
Gue membuka lipatan kertas itu. Membaca nya sambil menangis.
Renata sayang,
Aku nggak marah kok sama kamu, dan aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu. Nggak perlu minta maaf, aku udah maafin kamu. Renata, mungkin saat kamu baca ini, aku udah pergi jauh. Tapi tenang aja ya Re, aku masih disini. Apa kita ini masih bisa disebut pacaran? Ah entahlah, yang jelas aku sangat mencintaimu.
Rere, maaf aku nggak bilang apa-apa soal malam itu. Maaf aku akhir-akhir ini mulai menjauh darimu. Ini yang terbaik. Mungkin kamu lebih bahagia kalo sama Rico ya. Maaf, aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Nggak bisa jadi apa yang kamu mau. Aku bukan Rico Re..
Oh ya Re, aku sama kamu jauh. Tapi kita masih bisa liat bulan yang sama kan? Pas aku pergi, kamu nggak boleh nangisin aku ya :) Aku sedih kalo kamu nangis, soalnya aku sayang sama kamu.
Hmm, Renata.. Jangan lupa yaa, salam buat mama kamu. Aku bakal kangen Muffin Cokelat buatan mamamu dan bakal kangen sama Pisang Cokelat Keju yang kamu buat khusus buat aku dulu..
Di kos an Dion, gue ketuk pintu kamarnya berulang-ulang, masih nggak ada jawaban. Oh God, tolonglah aku, jangan ambil Dion.
"Renata?" Sebuah suara cowok mengagetkan gue. Oh bukan Dion :(
"Eh, Reza" Jawabku lemah
"Lo nyari siapa?" Tanya cowok bernama Reza itu
"Dion mana Za?"
"Dion.. udah.. pergi dari tadi" katanya menghela napas. Tubuh gue lemes seketika. Lutut gue juga langsung lemes. Gue memutuskan untuk duduk dibawah bersandar di pintu kamar Dion dan menangis sejadi-jadinya. Gue telat.. Dion udah pergi..
"Oh iya, Dion nitip ini ke gue" Reza mengeluarkan sepotong kertas yang dilipat dari kantongnya
Gue mengambilnya "Gue pergi dulu ya" ujar Reza.
Gue membuka lipatan kertas itu. Membaca nya sambil menangis.
Renata sayang,
Aku nggak marah kok sama kamu, dan aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu. Nggak perlu minta maaf, aku udah maafin kamu. Renata, mungkin saat kamu baca ini, aku udah pergi jauh. Tapi tenang aja ya Re, aku masih disini. Apa kita ini masih bisa disebut pacaran? Ah entahlah, yang jelas aku sangat mencintaimu.
Rere, maaf aku nggak bilang apa-apa soal malam itu. Maaf aku akhir-akhir ini mulai menjauh darimu. Ini yang terbaik. Mungkin kamu lebih bahagia kalo sama Rico ya. Maaf, aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Nggak bisa jadi apa yang kamu mau. Aku bukan Rico Re..
Oh ya Re, aku sama kamu jauh. Tapi kita masih bisa liat bulan yang sama kan? Pas aku pergi, kamu nggak boleh nangisin aku ya :) Aku sedih kalo kamu nangis, soalnya aku sayang sama kamu.
Hmm, Renata.. Jangan lupa yaa, salam buat mama kamu. Aku bakal kangen Muffin Cokelat buatan mamamu dan bakal kangen sama Pisang Cokelat Keju yang kamu buat khusus buat aku dulu..
Makasih yaa Renata :)
Dion :)
Gue langsung keluar, menatap bulan yang sama. Gue disini, Dion disana entah dimana
"DIIIOOOOONNNN!!!!!!!!!!!" Teriak gue, melepas semua beban. Menangisi dan menyesali apa yang udah gue lakuin dulu. Gue udah nyianyiain Dion.
Gue kangen elo Dion..
Sangat kangen..
PS: THE END!! Nggantung yah ceritanya? hehe, emang sengaja sih :p biar seru gitu. Thanks yak yang udah baca dari part 1 sampe part 10 yang terakhir ini. Love you guys <3 You rock /m/
Dion :)
Gue langsung keluar, menatap bulan yang sama. Gue disini, Dion disana entah dimana
"DIIIOOOOONNNN!!!!!!!!!!!" Teriak gue, melepas semua beban. Menangisi dan menyesali apa yang udah gue lakuin dulu. Gue udah nyianyiain Dion.
Gue kangen elo Dion..
Sangat kangen..
PS: THE END!! Nggantung yah ceritanya? hehe, emang sengaja sih :p biar seru gitu. Thanks yak yang udah baca dari part 1 sampe part 10 yang terakhir ini. Love you guys <3 You rock /m/
Sabtu, 08 Oktober 2011
Renata 9
Gue menatap lilin angka 22 ku. Api itu akan terus melelehkan lilin yang tak berdosa itu. Gue menatap sekeliling. Mamaku, Ayahku, Mia, dan teman-temanku yang lain. Dion? Dion tak datang. Alasannya ia pergi keluar kota. Surabaya tepatnya. Ah! sudahlah..
"Make a wish dulu dong honey" Ujar mama mengagetkan lamunanku. Gue pun memejamkan mataku. Ku harap, aku dapat bersama dion seperti dulu. Hanya aku dan dion. Gue membuka mata, semua harap-harap cemas. Gue pun meniup lilin berbentuk 22 itu. Api padam. Mungkin cinta Dion juga sudah 'padam' sama gue.
Gue gelisah. Gue memutuskan untuk ke arah kolam renang. Mencelupkan ujung-ujung kaki ke dalam air yang dingin. Dion nggak peduli lagi sama gue. Ya, Tuhan.. Kenapa harus Dion?
Tangan lembut menyentuh bahu gue "Rere.."
"Eh, Mia" gue tersenyum simpul
Mia pun ikut duduk disamping gue "Dion lagi?" gue hanya mengangguk
"Lo masih sama dia kan?" tanya Mia hati-hati. Gue pun hanya mengangguk lagi. Kemudian hening
"Mi, lo tau nggak kenapa dion akhir-akhir ini ngejauh dari gue?" tanyaku memecah keheningan
"Maaf Re, gue nggak tau. Kalo gue sih, mungkin lo pernah buat salah sama dion" jawabnya. Gue nggak bisa menahan airmata gue lagi. Akhirnya buliran lembut menetes di pipi gue.
Mia melihatku perihatin "Apa gue perlu telepon dion?"
"Gak perlu Mi, dengan gini.. Gue bisa tau kalo dion.. kalo dion.." gue sesengukan
"Gue masuk dulu ya Re"
"Hmmm.."
*Keesokan harinya di Stasiun Radio Bandung*
"Renata?"
Gue mengenal suara lembut itu. Gue mengangkat kepala. "Dion?" Ia tersenyum. Tapi senyumnya berbeda dari biasanya. Gue beranjak dari kursi gue. Memeluk dion sangat erat. gue kangen sama dia.
"Rere?"
"Aku kangen sama kamu Dion" ujarku tak menghiraunya.
"...."
"Kamu nggak papa kan Dion?" gue melepas pelukan gue dari dion. Menatap matanya.
"Hm.. aku, nggak papa. Aku baik-baik saja" jawabnya datar.
"Dion, maafin aku"
"Untuk?"
Gue menghela nafas panjang "Untuk semua kesalahan yang nggak aku sadari buat kamu sakit"
Dion hanya memandang gue, wajahnya sayu. Dia hanya tersenyum simpul.
"Dion, aku harus siaran dulu" lanjutku kemudian.
"Yaudah, sana siaran dulu" aku pun beranjak pergi. Kemudian tangan lembut menarik tangan gue. Gue pun berbalik. "Dion?" Tak ada jawaban. Dia hanya meluk gue, cukup lama.
"Maafin aku Re"
"Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Aku sayang kamu" lanjutnya nggak menghiraukan gue.
"Aku juga sayang kamu" "Aku harus siaran dulu" Ujarku
Dion pun mengecup kening gue perlahan. Kayaknya ada yang salah dari Dion. Tapi gue ngga berani nanya apa-apa.
Aku menatapnya heran "Dion?" panggilku.
"Habis siaran, kamu nggak boleh nangis yaa sayang" ia nggak menghiraukan gue lagi.
"Kenapa?" tanyaku hati-hati.
"Udah gih, sana siaran dulu" jawabnya. Gue pun beranjak pergi, gue membalikkan badan ke arah Dion lagi. Ia hanya tersenyum tulus. Gue pun membalas senyumnya. Ia pun berlalu pergi menghilang dibalik keheranan gue.
*In the studio*
Gue memakai headphone berwarna silver itu. Kemudian menghela nafas panjang sambil tersenyum malas. Gue pun menekan tombol merah bertuliskan 'On Air'
"Haloo, selamat malam para pendengar setia Bandung Pass Radio. Kembali lagi dengan gue Renata, akan menemani malam kalian. Kali ini kita buka sesi untuk para penelpon yang pingin curhat. Tapi, setelah lagu berikut yang akan diputar. This is it..."
Gue melepas headphone gue. Kemudian melirik partner disebelah gue. "Shel.."
"hmm?"
"Ntar lo mau kan nggantiin gue siaran kalo gue ada apa-apa?" tanyaku.
"Maksud lo?" Shella tanya balik ke gue.
"Gue ngerasa, ada yang nggak enak aja ntar. Semacam bad feeling gitu"
"Oh yaudah gak papa sih" putusnya.
"Sip! Maacih Shella ku sayang!" kemudian gue memasang headphone kembali.
"Hai hai! Kembali lagi sama gue. Haha, gimana? bagus ya lagunya tadi? Oke, tanpa basa-basi lagi. Yuk kita langsung buka sesi untuk para penelpon. Ayo silahkan siapa penelpon pertama kita??" Tuuuut.. tuuut.. tuuut... "Nah, penelpon pertama kita. Halo dengan siapa dimana?"
"Dari Dino di Cihampelas" terdengar suara berat dari ujung telepon.
"Yak, oke Kak Dino silahkan mau curhat tentang apa?"
"Make a wish dulu dong honey" Ujar mama mengagetkan lamunanku. Gue pun memejamkan mataku. Ku harap, aku dapat bersama dion seperti dulu. Hanya aku dan dion. Gue membuka mata, semua harap-harap cemas. Gue pun meniup lilin berbentuk 22 itu. Api padam. Mungkin cinta Dion juga sudah 'padam' sama gue.
Gue gelisah. Gue memutuskan untuk ke arah kolam renang. Mencelupkan ujung-ujung kaki ke dalam air yang dingin. Dion nggak peduli lagi sama gue. Ya, Tuhan.. Kenapa harus Dion?
Tangan lembut menyentuh bahu gue "Rere.."
"Eh, Mia" gue tersenyum simpul
Mia pun ikut duduk disamping gue "Dion lagi?" gue hanya mengangguk
"Lo masih sama dia kan?" tanya Mia hati-hati. Gue pun hanya mengangguk lagi. Kemudian hening
"Mi, lo tau nggak kenapa dion akhir-akhir ini ngejauh dari gue?" tanyaku memecah keheningan
"Maaf Re, gue nggak tau. Kalo gue sih, mungkin lo pernah buat salah sama dion" jawabnya. Gue nggak bisa menahan airmata gue lagi. Akhirnya buliran lembut menetes di pipi gue.
Mia melihatku perihatin "Apa gue perlu telepon dion?"
"Gak perlu Mi, dengan gini.. Gue bisa tau kalo dion.. kalo dion.." gue sesengukan
"Gue masuk dulu ya Re"
"Hmmm.."
*Keesokan harinya di Stasiun Radio Bandung*
"Renata?"
Gue mengenal suara lembut itu. Gue mengangkat kepala. "Dion?" Ia tersenyum. Tapi senyumnya berbeda dari biasanya. Gue beranjak dari kursi gue. Memeluk dion sangat erat. gue kangen sama dia.
"Rere?"
"Aku kangen sama kamu Dion" ujarku tak menghiraunya.
"...."
"Kamu nggak papa kan Dion?" gue melepas pelukan gue dari dion. Menatap matanya.
"Hm.. aku, nggak papa. Aku baik-baik saja" jawabnya datar.
"Dion, maafin aku"
"Untuk?"
Gue menghela nafas panjang "Untuk semua kesalahan yang nggak aku sadari buat kamu sakit"
Dion hanya memandang gue, wajahnya sayu. Dia hanya tersenyum simpul.
"Dion, aku harus siaran dulu" lanjutku kemudian.
"Yaudah, sana siaran dulu" aku pun beranjak pergi. Kemudian tangan lembut menarik tangan gue. Gue pun berbalik. "Dion?" Tak ada jawaban. Dia hanya meluk gue, cukup lama.
"Maafin aku Re"
"Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Aku sayang kamu" lanjutnya nggak menghiraukan gue.
"Aku juga sayang kamu" "Aku harus siaran dulu" Ujarku
Dion pun mengecup kening gue perlahan. Kayaknya ada yang salah dari Dion. Tapi gue ngga berani nanya apa-apa.
Aku menatapnya heran "Dion?" panggilku.
"Habis siaran, kamu nggak boleh nangis yaa sayang" ia nggak menghiraukan gue lagi.
"Kenapa?" tanyaku hati-hati.
"Udah gih, sana siaran dulu" jawabnya. Gue pun beranjak pergi, gue membalikkan badan ke arah Dion lagi. Ia hanya tersenyum tulus. Gue pun membalas senyumnya. Ia pun berlalu pergi menghilang dibalik keheranan gue.
*In the studio*
Gue memakai headphone berwarna silver itu. Kemudian menghela nafas panjang sambil tersenyum malas. Gue pun menekan tombol merah bertuliskan 'On Air'
"Haloo, selamat malam para pendengar setia Bandung Pass Radio. Kembali lagi dengan gue Renata, akan menemani malam kalian. Kali ini kita buka sesi untuk para penelpon yang pingin curhat. Tapi, setelah lagu berikut yang akan diputar. This is it..."
Gue melepas headphone gue. Kemudian melirik partner disebelah gue. "Shel.."
"hmm?"
"Ntar lo mau kan nggantiin gue siaran kalo gue ada apa-apa?" tanyaku.
"Maksud lo?" Shella tanya balik ke gue.
"Gue ngerasa, ada yang nggak enak aja ntar. Semacam bad feeling gitu"
"Oh yaudah gak papa sih" putusnya.
"Sip! Maacih Shella ku sayang!" kemudian gue memasang headphone kembali.
"Hai hai! Kembali lagi sama gue. Haha, gimana? bagus ya lagunya tadi? Oke, tanpa basa-basi lagi. Yuk kita langsung buka sesi untuk para penelpon. Ayo silahkan siapa penelpon pertama kita??" Tuuuut.. tuuut.. tuuut... "Nah, penelpon pertama kita. Halo dengan siapa dimana?"
"Dari Dino di Cihampelas" terdengar suara berat dari ujung telepon.
"Yak, oke Kak Dino silahkan mau curhat tentang apa?"
Langganan:
Komentar (Atom)
